TOP News
Home » Sains » Pengertian Gangguan Kepribadian Obsesif–Kompulsif

Pengertian Gangguan Kepribadian Obsesif–Kompulsif

(Pengertian Gangguan Kepribadian Obsesif–Kompulsif) – Diperkirakan penderita gangguan kepribadian ini sekitar 2% – 5% populasi dengan perbandingan pria 2 kali lebih banyak dari wanita. Kebanyakan berasal dari orang kulit putih, terpelajar, menikah, dan karyawan.

Walaupun memiliki gejala yang sama dengan Gangguan Obsesif – Kompulsif, tetapi tidak ada hubungan yang spesifik di antara keduanya.

Tanda–tanda Gangguan Kepribadian Obsesif – Kompulsif, antara lain :

  • Perasaan ragu dan hati – hati yang berlebihan.
  • Keterpakuan pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi, dan jadwal.
  • Perfeksionis yang menghambat penyelesaian tugas.
  • Ketelitian yang berlebihan, terlalu hati – hati, dan kecenderungan yang tidak semestinya untuk menciptakan kesenangan dan hubungan interpersonal.
  • Keterpakuan dan ketertarikan yang berlebihan pada kebiasaan sosial.
  • Kaku dan keras kepala.
  • Pemaksaan secara tidak masuk akal agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya, atau keengganan yang tak masuk akal mengizinkan orang lain melakukan sesuatu.
  • Mencampuradukkan pikiran atau dorongan yang bersifat memaksa atau yang tidak disukai.

Tak termasuk: Gangguan Obsesif – Kompulsif

Psikodinamika Gangguan Kepribadian Obsesif – Kompulsif
Penjelasan psikodinamikanya sangat terbatas, banyak dikaitkan dengan Gangguan Obsesif – Kompulsif walau tidak spesifik.

Teori Freudian mengatakan gangguan kepribadian ini terjadi akibat dari perilaku pada “toilet training”, dimana anak menjadi marah dan tetap mempertahankan fase perkembangan psikoseksual ini. Dan untuk mempertahankan kemarahan dibawah kontrolnya, dia menahan kemarahan dan naluri untuk menahan fesesnya secara ekstrem.

Pengobatan Gangguan Kepribadian Obsesif–Kompulsif
Orang dengan gangguan kepribadian ini tidak selalu menyadari bahwa dirinya terganggu, sehingga mereka biasanya tidak berobat sampai dia mengalami gangguan lain, seperti gangguan depresi atau gangguan cemas.

Walaupun terapi perilaku dan terapi obat efektif untuk mengobati gangguan ini, tapi dengan terapi psikodinamik dan terapi kognitif tampaknya memberikan hasil yang lebih baik.

Comments