TOP News
Home » Sains » Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme

Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme

(Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme) – Pleonasme merupakan pemakaian kata yang tak seharusnya digunakan, Suatu kalimat dapat disebut pleonasme jika kata yang berlebihan itu dihilangkan, artinya tetap putuh. Sehingga kalimat dapat menjadi lebih efektif dan dapat membantu memperlancar jalan bahasa serta menjadikan kalimat tersebut lebih memiliki kesan yang kuat.

Kita sering menemui penggunaan dua kata sambung dengan makna yang sama dalam sebuah kalimat. Padahal, menurut kaidah yang berlaku, hal semacam itu termasuk pemakaian kata yang mubazir atau penggunaan kata kurang hemat.

Pleonasme merupakan sifat berlebih-lebihan, dimana kalau seseorang menggunakan dua kata yang berbeda memiliki kesamaan arti sekaligus, meski sebenarnya tidak perlu, baik untuk penegas arti ataupun hanya sekedar gaya, itulah pleonasme.

Pada dasarnya pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan.

Setidaknya ada enam sebab terjadinya (sekaligus corak ) kalimat pleonastis:
1. Dalam satu frase terdapat dua atau lebih kata yang bersinonim
Contoh:

  1. Mulai dari kecil ia memang nakal.
  2. Demi untuk kekasihnya, dia mau melakukan apa saja

Penjelasan:

  • kata mulai mempunyai arti yang sama dengan kata dari. Dengan demikian, kalimat (a) tersebut mestinya cukup dikatakan: Mulaikecil ia memang nakal atau Dari kecil ia memang nakal
  • Kata demi mempunyai arti yang sama dengan kata untuk. Dengan demikian, kalimat (b) tersebut mestinya cukup dikatakan: Demi kekasihnya, dia mau melakukan apa saja atau Untuk kekasihnya, dia mau melakukan apa saja.

2. Bentuk jamak yang dinyatakan dua kali
Contoh:

  1. Semua buku-buku itu sudah pernah saya baca.
  2. Para siswa-siswa mengikuti upacara bendera.

Penjelasan:

  • Kata semua sudah mengandung pengertian banyak. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, seharusnya semua benda yang terdapat dibelakang kata tersebut tidak perlu dalam bentuk jamak. Jadikalimat (a) tersebut cukup dikatakan: Semua buku itu sudah pernah saya baca atau Buku-buku itu sudah pernah saya baca.
  • Kata para sudah mengandung pengertian banyak. Jadi kalimat (b)tersebut cukup dikatakan: Para siswa mengikuti upacara bendera atau Siswa-siswa mengikuti upacara bendera

3. Pengertian suatu kata sudah terkandung dalam kata yang lain pembentuk frase itu.
Contoh:

  1. Andi turun ke bawah.
  2. Nani naik ke atas.

Penjelasan:

  • Kata turun sudah mengandung pengertian yang sama dengan kata ke bawah. Jadi kalimat (a) tersebut cukup dikatakan: Andi turun atau Andi ke bawah
  • Kata naik sudah mengandung pengertian yang sama dengan kata keatas. Jadi kalimat (b) tersebut cukup dikatakan: Nani naik atau Nani ke atas.

4. Penanda jamak diikuti kata benda bentuk jamak
Contoh:

  1. Berbagai-bagai macam buah dijual di pasar.
  2. Berbagai-bagai jenis sayur ditanam di sawah.

Penjelasan:

  • Kata berbagai-bagai artinya sama benar dengan kata bermacam-macam. Karena itu dalam sebuah kalimat cukup dipakai salah satusaja. Karenanya kalimat (a) dapat dikatakan: Berbagai-bagai buahdijual di pasar, atau Bermacam-macam buah dijual di pasar.
  • Begitu pula kata berbagai-bagai artinya sama benar dengan kata berjenis-jenis. Karena itu didalam sebuah kalimat cukup dipakaisalah satu saja. Jadi kalimat (b) dapat dikatakan: Berbagai-bagai sayur ditanam di sawah, atau Berjenis-jenis sayur ditanam di sawah.

5. Salah satu unsur singkatan sudah dinyatakan secara lengkap.
Contoh:

  1. Persegi Bali FC memenangkan pertandingan.
  2. Perhimpunan partai Golkar memenangkan Pemilu.

Penjelasan:

  • Akronim Persegi merupakan singkatan persatuan sepak bola Gianyar. Pada sisi lain FC singkatan dari football club artinya persatuan sepak bola. Jadi ada dua frase yang bersinonim digunakan dalam sebuah frase yang lebih besar.
  • Akronim Golkar merupakan singkatan partai golongan karya, sementara kata golongan bersinonim dengan kata perhimpunan dan juga dengan kata partai. Jadi ada tiga frase yang bersinonim digunakan dalam frase yang lebih besar.

6. Hiponim
Contoh:

  1. Mereka memelihara berbagai burung, seperti burung nuri, burungkenari, dan burung cucak rowo.
  2. Ayah menanam berbagai sayur, seperti sayur bayam, sayur worteldan sayur kangkung.

Penjelasan:

  • Kata nuri, kata kenari, dan kata cucak rowo merupakan hiponimdari kata burung. Jadi kalimat (a) dapat dikatakan: Merekamemelihara berbagai, burung seperti nuri, kenari dan cucak rowo.
  • Kata bayam, kata wortel, dan katakangkung merupakan hiponimdari kata sayur. Jadi kalimat (b) dapat dikatakan: Ayah menanamberbagai sayur, seperti bayam,wortel dan kangkung.

Oleh sebab itu, dalam berbahasa kita harus membiasakan untuk tidak menggunakan kalimat yang tidak efektif (pleonasme), sehingga kalimat lebih mudah dipahami.

Comments