Tag Archives: Bahasa Indonesia

Pengertian Majas Pleonasme

Majas Pleonasme adalah penggunaan kata-kata yang lebih dari apa yang dibutuhkan. Pleonasme termasuk dalam kategori majas penegasan.

Dari 25 majas pertentangan, pleonasme adalah gaya bahasa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, gaya bahasa ini merupakan gaya bahasa mubazir.

Dikatakan mubazir karena menambahkan kata yang seharusnya tidak perlu ditambahkan dalam membuat kalimat, sehingga menyebabkan kalimat tidak efektif, dikarenakan pleonasme selalu menggunakan bahasa berlebihan (pleonastis) yang dapat kita ketahui dari beberapa contoh kalimat berikut:

  • Naiklah ke atas. (Kata naik sudah memiliki arti ke-atas)
  • Kamu maju ke depan. (Kata maju, sudah memiliki arti ke-depan)
  • Kepada para bapak-bapak dan ibu-ibu diharap tenang.
  • Terdapat beberapa langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pada umumnya pleonasme merupakan acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan dalam menyatakan satu pikiran atau gagasan, suatu acuan disebut pleonasme jika kata yang berlebihan itu dihilangkan tidak mengurangi arti dari kalimiat tersebut.

Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme

(Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme) – Pleonasme merupakan pemakaian kata yang tak seharusnya digunakan, Suatu kalimat dapat disebut pleonasme jika kata yang berlebihan itu dihilangkan, artinya tetap putuh. Sehingga kalimat dapat menjadi lebih efektif dan dapat membantu memperlancar jalan bahasa serta menjadikan kalimat tersebut lebih memiliki kesan yang kuat.

Kita sering menemui penggunaan dua kata sambung dengan makna yang sama dalam sebuah kalimat. Padahal, menurut kaidah yang berlaku, hal semacam itu termasuk pemakaian kata yang mubazir atau penggunaan kata kurang hemat.

Pleonasme merupakan sifat berlebih-lebihan, dimana kalau seseorang menggunakan dua kata yang berbeda memiliki kesamaan arti sekaligus, meski sebenarnya tidak perlu, baik untuk penegas arti ataupun hanya sekedar gaya, itulah pleonasme.

Pada dasarnya pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan.

Setidaknya ada enam sebab terjadinya (sekaligus corak ) kalimat pleonastis:
1. Dalam satu frase terdapat dua atau lebih kata yang bersinonim
Contoh:

  1. Mulai dari kecil ia memang nakal.
  2. Demi untuk kekasihnya, dia mau melakukan apa saja

Penjelasan:

  • kata mulai mempunyai arti yang sama dengan kata dari. Dengan demikian, kalimat (a) tersebut mestinya cukup dikatakan: Mulaikecil ia memang nakal atau Dari kecil ia memang nakal
  • Kata demi mempunyai arti yang sama dengan kata untuk. Dengan demikian, kalimat (b) tersebut mestinya cukup dikatakan: Demi kekasihnya, dia mau melakukan apa saja atau Untuk kekasihnya, dia mau melakukan apa saja.

2. Bentuk jamak yang dinyatakan dua kali
Contoh:

  1. Semua buku-buku itu sudah pernah saya baca.
  2. Para siswa-siswa mengikuti upacara bendera.

Penjelasan:

  • Kata semua sudah mengandung pengertian banyak. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, seharusnya semua benda yang terdapat dibelakang kata tersebut tidak perlu dalam bentuk jamak. Jadikalimat (a) tersebut cukup dikatakan: Semua buku itu sudah pernah saya baca atau Buku-buku itu sudah pernah saya baca.
  • Kata para sudah mengandung pengertian banyak. Jadi kalimat (b)tersebut cukup dikatakan: Para siswa mengikuti upacara bendera atau Siswa-siswa mengikuti upacara bendera

3. Pengertian suatu kata sudah terkandung dalam kata yang lain pembentuk frase itu.
Contoh:

  1. Andi turun ke bawah.
  2. Nani naik ke atas.

Penjelasan:

  • Kata turun sudah mengandung pengertian yang sama dengan kata ke bawah. Jadi kalimat (a) tersebut cukup dikatakan: Andi turun atau Andi ke bawah
  • Kata naik sudah mengandung pengertian yang sama dengan kata keatas. Jadi kalimat (b) tersebut cukup dikatakan: Nani naik atau Nani ke atas.

4. Penanda jamak diikuti kata benda bentuk jamak
Contoh:

  1. Berbagai-bagai macam buah dijual di pasar.
  2. Berbagai-bagai jenis sayur ditanam di sawah.

Penjelasan:

  • Kata berbagai-bagai artinya sama benar dengan kata bermacam-macam. Karena itu dalam sebuah kalimat cukup dipakai salah satusaja. Karenanya kalimat (a) dapat dikatakan: Berbagai-bagai buahdijual di pasar, atau Bermacam-macam buah dijual di pasar.
  • Begitu pula kata berbagai-bagai artinya sama benar dengan kata berjenis-jenis. Karena itu didalam sebuah kalimat cukup dipakaisalah satu saja. Jadi kalimat (b) dapat dikatakan: Berbagai-bagai sayur ditanam di sawah, atau Berjenis-jenis sayur ditanam di sawah.

5. Salah satu unsur singkatan sudah dinyatakan secara lengkap.
Contoh:

  1. Persegi Bali FC memenangkan pertandingan.
  2. Perhimpunan partai Golkar memenangkan Pemilu.

Penjelasan:

  • Akronim Persegi merupakan singkatan persatuan sepak bola Gianyar. Pada sisi lain FC singkatan dari football club artinya persatuan sepak bola. Jadi ada dua frase yang bersinonim digunakan dalam sebuah frase yang lebih besar.
  • Akronim Golkar merupakan singkatan partai golongan karya, sementara kata golongan bersinonim dengan kata perhimpunan dan juga dengan kata partai. Jadi ada tiga frase yang bersinonim digunakan dalam frase yang lebih besar.

6. Hiponim
Contoh:

  1. Mereka memelihara berbagai burung, seperti burung nuri, burungkenari, dan burung cucak rowo.
  2. Ayah menanam berbagai sayur, seperti sayur bayam, sayur worteldan sayur kangkung.

Penjelasan:

  • Kata nuri, kata kenari, dan kata cucak rowo merupakan hiponimdari kata burung. Jadi kalimat (a) dapat dikatakan: Merekamemelihara berbagai, burung seperti nuri, kenari dan cucak rowo.
  • Kata bayam, kata wortel, dan katakangkung merupakan hiponimdari kata sayur. Jadi kalimat (b) dapat dikatakan: Ayah menanamberbagai sayur, seperti bayam,wortel dan kangkung.

Oleh sebab itu, dalam berbahasa kita harus membiasakan untuk tidak menggunakan kalimat yang tidak efektif (pleonasme), sehingga kalimat lebih mudah dipahami.

Mengenal Tanda Baca dalam Bahasa Indonesia

(Mengenal Tanda Baca dalam Bahasa Indonesia) – Banyak orang yang masih belum faham dengan penggunaan tanda baca seperti: titik dua (:), tanda petik (“..”), tanda garis miring (/). Berikut ini adalah contoh-contoh penggunaan tanda baca Bahasa Indonesia yang benar:
a. Titik dua (:)
1) Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya: kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
2) Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya:
Ibu: (mendekati anaknya) “Kenapa kamu, sakit ya?”
Itok: “Ya, Bu, perutku sakit.” (sambil memeegang perutnya)
Ibu: “Ayo, periksa ke dokter!”

b. Tanda petik (“…”)
1) Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya:
a) “Saya belum siap,” kata mira, “tunggu sebentar!”
b) Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”

2) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Misalnya:
a) Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
b) Bu Guru bertanya kepada saya, “Di mana rumahmu?”

c. Tanda garis miring (/)
1) Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwin. Misalnya:
a) No. 7/PK/1973
b) Jalan Kramat III/10
c) tahun anggaran 2005/2006
d) tahun pelajaran 2011/2012

2) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya:
a) Barang itu dikirimkan lewat darat/laut.
b) Harganya Rp. 10.000/lembar

Pengertian Sinonim dan Antonim

(Pengertian Sinonim dan Antonim) – Sinonim adalah kata yang mempunyai makna sama atau hampir sama dengan kata lain. Sinonim sering kali disebut persamaan kata.

Sinonim adalah salah satu relasi makna yang terdapat pada semantik. Menurut Abdul Chaer “Sinonim merupakan hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran yang lainnya”. Pengucapan sinonim dapat dicontohkan seperti antara kata hamil dengan frase duduk perut; antara kata benar dengan kata betul.

Sedangkan Antonim adalah kata-kata yang maknanya berlawanan. Dimana kata tersebut memiliki perbedaan arti dan Antonim disebut juga lawan kata / lawan makna
Sinonim: Teliti = cermat
Antonim: Banyak = sedikit

Penulisan Huruf Kapital atau Huruf Besar yang Benar

Apa itu huruf kapital dan contohnya?

Dikutip dari wikipedia, huruf kapital adalah adalah huruf yang berukuran dan berbentuk khusus (lebih besar dari huruf biasa). Biasanya digunakan sebagai huruf pertama dari kata pertama dalam kalimat, huruf pertama nama diri, dan sebagainya.

(Penulisan Huruf Kapital atau Huruf Besar yang Benar) – Tidak sedikit orang yang tidak mengetahui struktur penulisan dalam Bahasa Indonesia yang benar baik itu penggunaan paragraf, penulisan penggunaan huruf besar, dan sebagainya. Berikut berbagai contoh penggunaan penulisan Huruf Kapital / Huruf besar yang benar dalam Bahasa Indonesia.

Apa saja yang menggunakan huruf kapital?

a. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya
1) Anak-anak kelas VI sedang belajar kelompok
2) Kita harus selalu berbakti kepada orang lain

b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya:
1) Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
2) Pak Guru berkata,”Kalian harus rajin belajar setiap hari.”

c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:
1) Allah Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Qur’an, Weda, Islam, Kristen.
2) Bimbinglah hamba0Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya:
Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Nabi Ibrahim, Imam Syafi’i

e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh:
Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Adisucipto, Gubernur Jawa Tengah.

Bagaimana penulisan huruf kapital yang benar?

Huruf pertama di awal kalimat selalu ditulis menggunakan huruf kapital, baik kata tersebut adalah nama, kata ganti, partikel, singkatan, akronim, kata dasar, maupun kata berimbuhan. Contohnya: Tahukah kamu? Adam rajin berolahraga.

f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya:
Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, Yos Sudarso, Ampere.

g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku bangsa, danbahasa. Misalnya: bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris.

h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: Tahun Hijriyah, tarikh Masehi, bulan Agustus, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari natal, Perang Diponegoro.

i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
1) Asia Tenggara, Samudra Hindia, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng
2) Gunung Merapi, Jalan Slamet Riyadi, Kali Brantas, Selat Bali.

J. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan. Misalnya:
1) Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat, Departemen.
2) Pendidikan Nasional, Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak.
3) Keputusan Presiden republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.

Dimana saja huruf kapital digunakan?

Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama negara, lembaga, badan, organisasi, dan dokumen kecuali unsur kata tugas (dan, oleh, atau, untuk, di, ke, dari) di dalamnya.

k. Huruf kapital dipakai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Misalnya:
1) Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
3) Rancangan Undang-Undang.
4) Majelis Permusyawaratan Rakyat

l.Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
1) Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
2) Bacalah majalah Bahasa dan Sastra
3) Setiap hari ayah membaca surat kabar Kompas.]

m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan. Misalnya:
1) Dr.: doctor
2) S.H.: sarjana hukum
3) Prof: profesor
4) Sdr.: saudara

Mungkin penulisan huruf kapital yang tepat memanglah bukan sesuatu hal yang penting bagi anda, namun terkadang apabila kita mengabaikannya bisa menjadikan masalah tersendiri.